3 Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Gaji Minimum ( UMP ) di Yogya, Berat Boooos!

Tahun 2022 jadi lembaran baru bagi para pencari kerja, tak terkecuali mereka yang baru lulus kuliah jenjang sarjana. Dalam mencari kerja, hal yang pertama diperhatikan, tentu tak jauh dari besaran gaji atau upah yang bakal diterima nantinya.

Bicara soal upah, Anda sudah tahu belum berapa besaran upah minimum di masing-masing provinsi?

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah pernah menyampaikan rangkuman dari hasil pelaksanaan kenaikan UMP 2022. Perbandingan UMP di Jakarta yang tertinggi dengan Jawa Tengah yang terendah memiliki perbedaan yang cukup jauh.

Ida menjelaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 16 Desember 2021 yang lalu telah mengeluarkan keputusan untuk merevisi kenaikan UMP 2022 menjadi 5,1% atau sebesar Rp 225.667.

“Sehingga besaran UMP (Jakarta) tahun 2022 menjadi Rp 4.641.854,” ucapnya dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Senin (24/1/2022) silam.

Hal itu menjadikan UMP Jakarta masih menjadi yang tertinggi. Sementara UMP yang terendah di Jawa Tengah sebesar Rp 1.812.935.

Di antara informasi tersebut, ada fakta menarik loh soal UMP di Yogyakarta:

1. UMP Yogyakarta Termasuk Terendah di RI

Dari beberapa provinsi, ada sejumlah wilayah yang tercatat sebagai wilayah dengan UMP terendah. Besarannya tak lebih dari Rp 2 juta, atau hanya sekitar Rp 1,8 jutaan. Salah satunya adalah Yogyakarta yang menetapkan UMP 2022 sebesar Rp 1.840.915 atau naik sebanyak Rp 75.915.

Dengan besaran tersebut, Yogyakarta jadi salah satu provinsi dengan UMP terendah di tanah air. Tapi, masih ada yang lebih kecil dari Yogyakarta, yakni Jawa Tengah dengan UMP Rp 1.812.935 atau naik sebesar Rp 13.956.

Tapi, posisi Yogyakarta di bawah Jawa Timur dengan UMP sebesar Rp 1,891.567 atau naik Rp 22.790. Mundur ke belakang, UMP Yogyakarta kerap berada di posisi terbawah. Pada 2021 misalnya, UMP Yogyakarta posisi terendah dari 34 provinsi.

UMP Yogyakarta 2021 sebesar Rp 1.765.000. Angka tersebut di bawah Jawa Tengah sebesar Rp1.798.979, Jawa Timur Rp 1.868.777, dan Banten Rp 2.460.996.

Begitu juga di tahun 2020, posisi Yogyakarta juga terbawah. UMP Yogyakarta tahun 2020 ditetapkan Rp 1.704.607. Sementara, Jawa Barat Rp 1.810.350, Jawa Tengah Rp 1.742.015, dan Jawa Timur Rp 1.768.777.

Baca Buku Mimpi

2. Tak Cukup untuk Hidup Sebulan?

Wardi, salah satu pekerja di Kota Pelajar itu mengaku memang masih menerima gaji sebesar UMP. Uang segitu kata dia, hanya cukup untuk bertahan Hidup pas-pasan di Yogyakarta.

“Kalau ditanya cukup, mungkin cukup. Tapi ya untuk bertahan hidup saja. Bahkan buat yang single saja kadang masih kurang,” tutur dia saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/2/2018).

Ia lantas merinci komponen pengeluarannya. Dari Rp 1.840.915, sekitar Rp 600.000 harus ia alokasikan untuk biaya kos. “Itu kosongan, artinya, tanpa perabot ya,” aku dia.

Pengeluaran rutin lainnya adalah untuk bahan bakar. Dalam sebulan, sedikitnya ia harus merogoh Rp 200.000-300.000 untuk membeli BBM agar sepeda motornya bisa melaju mengantarnya dari kos ke tempat kerja.

Itu belum termasuk biaya perawatan rutin dan ganti oli minimal Rp 100.000/bulan. Dari sini saja, bila ditotal Wardi harus merogoh sekitar Rp 1.000.000 untuk biaya kos, BBM hingga perawatan kendaraan. Itu belum termasuk biaya makan. Dengan kondisi saat ini, biaya hidup di kota gudeg itu sebenarnya tak bisa lagi dibilang murah.

“Sehari makan Rp 20 ribu. Dikalikan saja dengan 30 hari,” tutur dia.

Dengan perhitungan itu, setidaknya ia harus mengeluarkan Rp 600 ribu setiap bulannya untuk kebutuhan makan. Masih ada lagi pengeluaran Rp 100.000/bulan untuk internet. Itu belum termasuk pengeluaran tak terduga dari mulai parkir di minimarket hingga pengeluaran lain-lain seperti hiburan.

Senasib dengan Wardi, ada Tabah Sukma yang juga masih menerima gaji UMP Yogyakarta. Menurut Tabah, gaji sebesar itu hanya cukup untuk bertahan hidup dirinya yang masih berkuliah.

Agar bisa menabung, ia langsung memotong gaji bulanannya Rp 200.000 di tanggal gajian. Setelah itu, ia baru membagi-bagi pos pengeluaran lainnya seperti internet, BBM hingga uang jajan.

“Internet Rp 120.000/bulan, kuliah Rp 625.000/bulan, bensin kurang lebih Rp 100-150 ribu/bulan. Kalau makan, jajan, main, nggak nentu sih, tapi kalau dirata-rata Rp 10-15 ribu bulan,” tutur dia.

Dengan rincian itu, berarti setiap bulan dirinya harus menyisihkan gajinya sebesar Rp 1.345.000. Tapi ada yang belum dihitung dari pengeluaran bulanan kaum pekerja muda di Yogyakarta.

“Ada biaya sosial yang sebenarnya itu kadang-kadang nggak terduga,” sebut dia.

Biaya sosial yang dimaksud adalah pengeluaran yang perlu disiapkan untuk menghadiri pernikahan teman. Meski berat, namun ini jadi pengeluaran yang bisa dibilang perlu alokasi khusus.

3. Idealnya Rp 2,5-3 Juta

Dengan sederet pengeluaran yang untuk pekerja lajang saja sudah cukup mepet, lantas berapa sih upah minimum yang ideal untuk Yogyakarta?

Wardi, seorang warga Yogyakarta yang saat ini masih menerima gaji UMP mengatakan, idealnya gaji untuk pekerja baru di Yogyakarta adalah sebesar Rp 3 juta/bulan.

“Kalau nggak ada kerjaan sampingan, kita ya cuma bertahan hidup saja sebulan dengan UMR. Idealnya Rp 3 juta lah sebulan,” tegas Wardi.

Setidaknya angka itu ideal agar para pekerja ini memperoleh hidup layak dan dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Rp 3 juta itu sudah bisa memenuhi komponen hidup layaklah ya,” sebut dia.

Besaran itu diamini pekerja muda lainnya di Kota Gudeg itu, Tabah Sukma. Menurut Tabah, bila punya penghasilan yang lebih memadai, pekerja muda di Yogya bisa memenuhi kebutuhan dasarnya dengan baik dan lebih mandiri.

“Jadi memang kalau bicara UMP itu kurang sekali ya. Harapannya bisa seperti daerah lain lah, minimal Rp 2,5-3 juta per bulan. Itu baru bisa napas,” tandas dia.

Baca Juga: Endus Permainan Mafia, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng


1 Comment

Masih Rebutan Warisan Rp 737 T Sinarmas, Sampai Lapor Polisi - Origami · February 4, 2022 at 3:04 am

[…] Baca Juga: 3 Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal UMP di Yogya, Berat Boooos! […]

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.